Sindrom Pernapasan
Akut Berat (bahasa Inggris: Severe Acute Respiratory Syndrome, SARS) adalah sebuah jenis
penyakit pneumonia. SARS pertama kali muncul pada November 2002 di Provinsi Guangdong, Tiongkok. SARS sekarang
dipercayai disebabkan oleh virus SARS. Sekitar 10% dari
penderita SARS meninggal dunia.
Setelah Tiongkok
membungkam berita wabah SARS baik internal maupun internasional, SARS menyebar sangat cepat,
mencapai negeri tetangga Hong Kong dan Vietnam pada akhir Februari 2003, kemudian ke negara lain dengan
perantaraan wisatawan internasional. Kasus terakhir dari epidemi ini terjadi pada Juni
2003. Dalam wabah itu, 8.069 kasus muncul yang menewaskan 775 orang.
Virus SARS sepertinya
berasal dari Provinsi Guangdong pada November 2002. Walaupun telah mengambil
langkah-langkah untuk mengontrol epidemi, Tiongkok tidak memberitahu Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) tentang wabah
itu hingga Februari 2003. Justru, pemerintah setempat membatasi laporan epidemi
untuk menjaga muka dan kepercayaan publik. Ketidakterbukaan ini menjadikan
Tiongkok sebagai kambing hitam akibat menunda upaya internasional melawan
epidemi. Sejak itu Tiongkok secara resmi telah meminta maaf karena
keterlambatannya dalam mengatasi wabah SARS.
Pada awal April, ada
perubahan kebijaksanaan resmi ketika media resmi melaporkan kasus SARS secara
lebih terang. Namun, pada masa itu juga beberapa tuduhan muncul mengenai
laporan jumlah kasus yang lebih sedikit dari angka sebenarnya di rumah sakit
militer Beijing. Setelah pelobian
yang alot, pejabat Tiongkok memperbolehkan pejabat internasional menyelidiki
situasi di sana. Hasil penyelidikan mengungkapkan masalah-masalah terkait
sistem kesehatan daratan Tiongkok yang sudah tua, seperti maraknya
desentralisasi, pita merah dan komunikasi yang
kurang.
Pada akhir April,
pemerintah Tiongkok mengakui bahwa kasus pelaporan jumlah kasus yang lebih
sedikit dari angka sebenarnya disebabkan buruknya sistem kesehatan. Dr. Jiang Yanyong membeberkan fakta
yang sebenarnya dengan risiko personal yang besar. Dia melaporkan lebih banyak
pasien SARS di sebuah rumah sakit yang ditanganinya daripada yang dilaporkan di
seluruh Tiongkok. Beberapa pejabat Tiongkok dipecat dari jabatannya, termasuk
Menteri Kesehatan dan Walikota Beijing. Sistem untuk
meningkatkan kualitas laporan dan pengontrolan SARS juga dibentuk.
Epidemi SARS menjadi
perhatian publik pada Februari 2004 ketika seorang pengusaha asal Amerika yang
berangkat dari Tiongkok menderita gejala yang mirip dengan pneumonia dalam penerbangan
menuju Singapura. Pesawat terpaksa
mendarat di Hanoi, Vietnam, di mana korban
meninggal di rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat yang mencoba
menyembuhkannya perlahan-lahan menderita penyakit yang sama walaupun prosedur
dasar rumah sakit telah diterapkan. Beberapa dari mereka meninggal. Gejala yang
ganas dan infeksi yang diderita oleh staf rumah sakit menggemparkan otoritas
kesehatan sedunia yang takut akan munculnya epidemi pneumonia baru. Pada 12 Maret 2003, WHO
mengeluarkan sebuah peringatan global yang juga diikuti
dengan peringatan kesehatan yang dikeluarkan oleh Pusat Pengontrolan
Penyakit dan Pencegahan (CDC) Amerika Serikat.
Penyebaran SARS secara
lokal terjadi di Toronto, Singapura, Hanoi, Taiwan, Hong Kong, dan provinsi Guangdong serta Shanxi di Tiongkok. Di Hong Kong grup pertama
yang menderita SARS keluar dari rumah sakit pada 29 Maret 2003. SARS menyebar
di Hong Kong melalui seorang dokter daratan Tiongkok tepatnya di lantai 9 Hotel
Metropole di Peninsula Kowloon yang menginfeksi 16 pengunjung hotel. Para
pengunjung ini kemudian pergi ke Singapura dan Toronto sehingga menyebarkan
SARS di lokasi tersebut.
Pusat Pengontrolan
Penyakit (CDC) yang berbasis di Atlanta mengumumkan pada awal April mengenai
keyakinan bahwa sebuah jenis viruscorona, jenis yang
kemungkinan tidak pernah terlihat pada manusia, merupakan perantara menular
yang bertanggung jawab terhadap penularan SARS. [3] Transmisi penyakit
itu hingga kini belum dapat diketahui secara pasti. Ada anggapan bahwa ia
menyebar melalui penghirupan cairan yang dikeluarkan oleh si penderita ketika
dia batuk atau bersin. Otoritas kesehatan juga menyelidiki
kemungkinan penyebaran lewat udara yang dapat meningkatkan potensi keganasan
penyakit.
Kemungkinan penderita
SARS menjadi asymptomatic, artinya si penderita bisa menularkan penyakit
tanpa mengalami gejala jasmani sehingga dapat menyebar di sebuah populasi tanpa
terdeteksi sangat kecil, menurut pejabat WHO. "Apabila penderita asymptomatic
memainkan peranan penting, kami mampu mengetahuinya hinga sekarang," ujar
juru bicara WHO Dick Thompson kepada Reuters pada April 2004.
Informasi klinis
1.
Gejala
Mula-mula gejalanya
mirip seperti flu dan bisa mencakup: demam, myalgia, lethargy, gejala
gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan gejala
non-spesifik lainnya. Satu-satunya gejala yang sering dialami seluruh pasien
adalah demam di atas 38 °C (100.4 °F). Sesak napas bisa terjadi
kemudian.
Gejala tersebut biasanya muncul 2–10
hari setelah terekspos, tetapi sampai 13 hari juga pernah dilaporkan terjadi.
Pada kebanyakan kasus gejala biasanya muncul antara 2–3 hari. Sekitar 10–20%
kasus membutuhkan ventilasi mekanis.
2.
Tanda fisik
Awalnya tanda jasmani
tidak begitu kelihatan dan mungkin tidak ada. Beberapa pasien akan mengalami tachypnea dan crackle pada auscultation. Kemudian, tachypnea dan lethargy kelihatan jelas.
3.
Investigasi
Kemunculan SARS pada Sinar X di dada (CXR) bermacam-macam
bentuknya. Kemunculan patognomonic SARS tidak kelihatan tetapi biasanya dapat
dirasakan dengan munculnya lubang di beberapa bagian di paru-paru. Hasil CXR
awalnya mungkin lebih kelihatan.
Jumlah Sel darah putih dan platelet cenderung rendah.
Laporan awal mengindikasikan jumlah neutrophilia dan lymphopenia yang cenderung
relatif — disebut demikian karena angka total sel darah putih cenderung rendah.
Hasil laboaratorium lainnya seperti naiknya kadar lactate dehydrogenase, creatinine kinase dan C-Reactive protein.
4.
Tes diagnosis
Proses indentifikasi
dan sequencing' DNA coronavirus pada 12 April 2003 berhasil memproduksi
beberapa alat tes diagnosis yang sekarang sedang diuji untuk kelayakan pakai.
Tiga kemungkinan tes diagnosis telah
tersedia, masing-masing dengan kelemahannya. Yang pertama, sebuah tes ELISA (enzyme-linked
immunosorbent assay) mendeteksi antibodi SARS dengan baik
namun hanya dapat dilakaukan setelah 21 hari dari kemunculan gejala. Yang kedua
berupa immunofluorescence assay yang dapat mendeteksi antibodi 10 hari
setelah kemunculan gejala namun memakan waktu dan tenaga karena membutuhkan mikroskop immunofluorescence
dan operator yang pengalaman. Yang terakhir adalah tes PCR (polymerase chain reaction) yang bisa mendeteksi
materi genetik virus SARS di darah, sputum, sampel tisu dan stool. Tes
PCR hingga kini sangat spesifik namun sangat tidak sensitif. Artinya sebuah tes
positif PCR sangat mengindikasikan si pasien terinfeksi SARS; hasil negatif
tidak berarti si pasien tidak mengidap SARS.
Hingga kini belum ada tes pemeriksaan
SARS yang cepat dan penelitian masih berjalan.
5. Diagnosis
Sebuah kasus SARS
yang mencurigakan adalah seorang pasien yang mengalami:
- salah
satu dari gejala-gejala termasuk demam dengan suhu 38 °C atau lebih DAN
- pernah
mengalami
- kontak
dengan seseorang yang didiagnosis mengidap SARS pada kurun waktu 10 hari
terakhir ATAU
- mengunjungi
salah satu dari daerah yang teridentifikasi oleh WHO sebagai area dengan
transmisi lokal SARS (daerah itu pada
10 Mei 2003 [5] adalah sebagian kawasan Tiongkok, Hong
Kong, Singapura dan provinsi Ontario, Kanada).
Sebuah kasus kemungkinan SARS
mempunyai gejala-gejala di atas berikut hasil sinar-X pada dada yang
positif menderita atypical pneumonia atau sindrom pernapasan
panik.
Dengan kemajuan tes diagnosis
coronavirus yang menyebabkan SARS, WHO telah menambah kategori "SARS
menurut hasil laboratorium" untuk pasien yang sebenarnya masuk kategori
"kemungkinan" namun belum/tidak mengalami perubahan pada sinar x di
dada tetapi hasil diagnosis laboratorium positif menderita SARS menurut salah
satu dari tes yang diperbolehkan (ELISA, immunofluorescence atau PCR).
6.
Tingkat kematian
Tingkat kematian
bervariasi di setiap negara dan organisasi peliput. Pada awal Mei, supaya
konsisten dengan metrik yang sama pada penyakit lain, WHO dan CDC AS mengutip 7%, atau jumlah kematian
dibagi dengan kasus kemungkinan, sebagai tingkat kematian SARS. Yang lainnya
lebih setuju dengan figur 15% yang didapat dari jumlah kematian dibagi dengan
jumlah yang telah sembuh atau meninggal, dengan alasan lebih mencerminkan
situasi sebenarnya secara akurat. Tatkala wabah berlanjut tingkat kematian
mancapai 10%.
Salah satu alasan mengapa mengukur
jumlah kematian sulit ialah angka infeksi dan angka kematian meningkat pada
kadar yang sama sekali berbeda. Sebuah kemungkinan penjelasan mencakup infeksi
sekunder sebagai agen penyebab penyakit (Lihat analisis Eric Lerner), tetapi apapun
penyebabnya, angka kematian sudah pasti akan berubah.
Kematian berdasarkan grup usia terhitung
8 Mei 2003 adalah di bawah 1% untuk orang usia 24 atau lebih muda, 6% untuk
mereka yang berusia 25-44, 15% pada usia 45-64 dan lebih dari 50% untuk yang
berusia lebih dari 65. [6]
Sebagai perbandingan, kasus tingkat
kematian influenza biasanya sekitar 0.6% (terutama pada lansia) tetapi dapat naik hingga 33%
pada epidemi lokal yang parah dari mutasi baru. Tingkat kematian jenis
pneumonia menular dasar sekitar 70%.
7.
Pengobatan
Antibiotik masih belum efektif.
Pengobatan SARS hingga kini masih bergantung pada anti-pyretic,
supplemen oksigen dan bantuan ventilasi.
Kasus SARS yang
mencurigakan harus diisolasi, lebih baiknya di ruangan tekanan negatif, dengan kostum
pengaman lengkap untuk segala kontak apapun dengan pasien.
Awalnya ada dukungan
anekdotal untuk penggunaan steroid dan antiviral drug ribavirin, namun
tidak ada bukti yang mendukung terapi ini. Sekarang banyak juru klinik yang
mencurigai ribavirin tidak baik bagi kesehatan.
Ilmuwan kini sedang
mencoba segala obat antiviral untuk penyakit lain seperti AIDShepatitis, influenza dan lainnya pada
coronavirus.
Ada keuntungan dari
penggunaan steroid dan immune system modulating agent lainnya pada
pengobatan pasien SARS yang parah karena beberapa bukti menunjukkan sebagian
dari kerusakan serius yang disebabkan SARS disebabkan oleh reaksi yang
berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap virus. Penelitian masih
berlanjut pada area ini.
Pada Desember 2004,
laporan menyebutkan para peneliti Tiongkok telah menemukan sebuah vaksin SARS yang telah diujicoba pada 36
sukarelawan, 24 diantaranya menghasilkan antibodi virus SARS.
Level pengetahuan penyebab sekarang
Etiologi SARS masih dipelajari. Pada 7 April 2003, WHO mengumumkan kesepakatan bahwa coronavirus yang baru teridentifikasi
adalah mayoritas agen penyebab SARS, dan pentingnya metapneumovirus manusia
(hMPV) masih belum jelas dan akan dipelajari. [7] Kemudian pada 16 April ilmuwan Universitas Erasmus di Rotterdam, Belanda mengumumkan bahwa virus yang menyebabkan SARS adalah betul coronavirus
baru. Pada berbagai eksperimen, kera disuntik dengan coronavirus dan
hasilnya mereka menderita gejala yang sama dengan penderita SARS manusia.
Coronavirus sebagai agen penyebab SARS
Sebuah artikel di The Lancet mengidentifikasi
coronavirus sebagai kemungkinan agen penyebab SARS.
Pada 16 April 2003, WHO mengeluarkan pernyataan pers tentang hasil penelitian di sejumlah
laboratorium yang mengidentifikasikan coronavirus sebagai penyebab resmi SARS
Pada akhir Mei 2003, studi dari berbagai sampel
binatang liar yang dijual sebagai makanan di pasar di Guangdong, Tiongkok
menunjukkan coronavirus SARS dapat diisolasikan dari musang. Ini menunjukkan virus SARS dapat
menembus pembatas spesies dari musang; namun, hasil ini
tidak pasti karena mungkin saja musang terjangkit virus dari manusia dan bukan
sebaliknya atau bahkan musang adalah semacam agen penularan. Penelitian masih
berlangsung.
Memetakan kode genetik virus yang berhubungan dengan
SARS
Pada 12 April 2003, ilmuwan yang bekerja sepanjang waktu di Pusat Sains Genome Michael Smith
di Vancouver berhasil memetakan urutan genetik coronavirus. Riset itu menggunakan
sampel dari pasien di Toronto. Peta yang dipuji WHO karena ia adalah suatu
langkah penting dalam menghadapi SARS sekarang dipakai ilmuwan seluruh dunia
melalui situs GSC. Lihat artikel virus SARS untuk lebih lanjutnya.
Dr. Donald Low dari Rumah Sakit Mount Sinai di Toronto mengungkapkan
penemuan itu berkat "kecepatan yang luar biasa". Sebuah tim bekerja
24 jam sehari selama enam hari.
Hingga 17 April 2003, kenaikan tingkat kematian dari pekan sebelumnya
terutama kenaikan kematian pada pasien muda yang tadinya sehat kembali
menimbulkan kepanikan akan parahnya SARS seperti di Hong Kong. Alasan kenaikan angka kematian belum dapat dijelaskan dengan pasti.
Beberapa faktor berikut berperan penting:
- Pengelompokan statistis: Peristiwa sebuah grup
kematian pada usia muda kebetulan terjadi pada periode yang singkat. Ini
hanya dapat dipastikan melalui analisis statistis secara detail pada grup
pasien yang berbeda.
- Lambatnya presentasi: Pasien yang terdata pada
stage lanjutan akan mengalami nasib buruk. Ini telah menjadi sebuah
penjelasan pada beberapa kasus.
- Drug resistance: Ini telah dijadikan suatu
penjelasan oleh seorang Profesor virologi dari Universitas Tiongkok.
Banyak masyarakat medis yang berdebat mengenai kemanjuran ribavirin. Namun kemanjuran itu tidak mungkin berubah
drastis pada waktu singkat di penderita usia muda.
- Variasi keparahan penyakit: Ini adalah sebuah kemungkinan
yang penting. Banyak laporan anekdotal yang menyatakan SARS lebih parah
dari kelompok pasien di Taman Amoy, Hong Kong. WHO menganggap ini sebagai
sebuah faktor penting. Salah satu alasan ialah proses lingkungan hidup
berperan dalam penyebaran virus dalam jumlah besar. Saran lainnya ialah
perubahan kecil pada coronavirus menjadikan SARS makin parah pada kelompok
ini. Terekspos virus dalam jumlah besar atau SARS yang lebih parah
berdampak besar pada kaum muda dan yang tadinya sehat. Hipotesis ini dapat
diujicoba dengan menentukan dampaknya pada kelompok ini selain juga dengan
meneliti RNA virus untuk menentukan apakah variasi kecil berhubungan
dengan jenis penyakit lain.
- Variasi level perawatan
kesehatan:
Kelompok pertama berjumlah 138 pasien hanya mempunyai tingkat kematian
berjumlah 3,6%.
Grafik ini menunjukkan evolusi manusia yang mungkin terinfreksi, menurut
negara utama (Rata-rata 7 hari) dan tingkat kematian pada 2 minggu terakhir.
Orang yang mungkin terinfeksi = Kasus kumulatif − Angka kematian − Angka orang yang sembuh.
Tingkat kematian = Mati / (Mati + Sembuh)
Orang yang mungkin terinfeksi = Kasus kumulatif − Angka kematian − Angka orang yang sembuh.
Tingkat kematian = Mati / (Mati + Sembuh)
Langkah-langkah yang diterapkan untuk memperkecil
wabah SARS
WHO membangun jaringan bagi para doktor dan ilmuwan
yang terlibat dengan SARS berupa situs aman untuk mempelajari sinar-X dada dan
telekonferensi.
Berbagai langkah diterapkan untuk mengontrol infeksi
SARS melalui cara karantina. Lebih dari 1.200 orang dikarantina di Hong Kong,
977 di Singapura dan 1.147 di Taiwan. Kanada juga mengarantinakan ribuan orang.
Di Singapura, hampir seluruh sekolah diliburkan selama 10 hari dan di Hong Kong
ditutup hingga 21 April untuk menahan penyebaran SARS.
Pada 27 Maret 2003, WHO menyarankan pemeriksaan bagi penumpang pesawat terbang untuk mendeteksi gejala SARS.
Di Singapura, Rumah Sakit (RS) Tan Tock Seng
ditetapkan sebagai satu-satunya tempat penyembuhan dan pusat isolasi bagi
seluruh kasus yang terbukti dan mungkin menderita SARS pada 22 Maret. Selanjutnya, seluruh rumah sakit menerapkan langkah bagi seluruh anggota
staf supaya memeriksa suhu badan dua kali sehari, pengunjung hanya
diperbolehkan mengunjungi pasien yang dirawat di bagian pediatric, obstetric
dan pasien terpilih lainnya, dan itu pun hanya diperbolehkan satu orang pada
setiap kesempatan. Untuk mengatasi ketidaknyamanan ini, videokonferensi
digunakan untuk berkomunikasi. Sebuah layanan telepon dibuka untuk melapor
kasus SARS, di mana layanan ambulans privat akan membawa mereka ke RS Tan Tock
Seng.
Pada 24 Maret, Menteri Kesehatan Singapura mengeluarkan Undang-Undang Penyakit Menular
yang menerapkan karantina rumah wajib selama 10 hari bagi orang yang pernah
berkontak dengan pasien SARS. Pasien SARS yang keluar dari rumah sakit
menjalani karantina selama 21 hari. Telepon pengintaian dipasang supaya para
karantinawan menjawab telepon ketika dihubungi secara mendadak. Pasien yang
kemungkinan menderita SARS yang telah keluar dari RS dan beberapa kasus pasien
yang dicurigai terkena SARS yang telah sembuh juga diharuskan menjalani
karantina rumah selama 14 hari. Petugas keamanan dari perusahaan CISCO
ditugaskan untuk mengawasi karantina tersebut.
Pada 23 April WHO menyarankan kunjungan ke Toronto hanya untuk kepentingan mendesak saja karena beberapa orang dari Toronto
ternyata "mengekspor" SARS ke belahan dunia. Pejabat kesehatan publik
Toronto menyatakan hanya satu dari kemungkinan kasus ekspor yang didiagnosis
sebagai SARS dan juga kasus SARS baru di Toronto hanya berasal dari rumah sakit.
Peringatan WHO juga diikuti dengan saran yang sama oleh beberapa negara
terhadap warhanya. Pada 29 April WHO mengumumkan peringatan itu berakhir pada
30 April. Pariwisata Toronto menderita kerugian akibat peringatan itu yang
menyebabkan The Rolling Stones dan lainnya menyelenggarakan sebuah konser besar yang
dikenal dengan SARSstock untuk memulihkan sektor pariwisata.
Juga pada 23 April, Singapura menginstruksikan
pemeriksaan thermal imaging scan bagi seluruh pengunjung yang berangkat
dari Bandara Changi. Pemeriksaan terhadap pengunjung di perbatasan dengan
Malaysia Tuas dan Woodlands juga ditingkatkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar