Melanjukan tulisan terdahulu tentang ISPA
serta klasifikasi ISPA
pada Balita, maka kita perlu mengetahui beberapa faktor resiko ISPA
pada Balita. Berbagai publikasi melaporkan tentang faktor resiko yang
meningkatkan morbiditas dan mortalitas pneumonia. Jika dibuat daftar faktor
resiko tersebut adalah sebagai berikut :
a. Faktor resiko yang
meningkatkan insiden pneumonia
b. Faktor resiko yang
meningkatkan angka kematian pneumonia
Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor resiko terjadinya
ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak , serta faktor perilaku.
1. Faktor lingkungan
a.
Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak
dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahan paru sehingga akan
memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan
ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar
tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan
karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya
sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi.
Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan
antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan resiko bronchitis,
pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi, dimana efek
ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6 – 10 tahun.
b.
Ventilasi rumah
Ventilasi yaitu proses
penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan baik secara alami
maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar
oksigen yang optimum bagi pernapasan.
2. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu
dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran udara.
3. Mensuplai panas agar hilangnya panas
badan seimbang.
4. Mensuplai panas akibat hilangnya
panas ruangan dan bangunan.
5. Mengeluakan kelebihan udara panas
yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan
eksternal.
6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.
c.
Kepadatan hunian rumah
Kepadatan
hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor
829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal
menempati luas rumah 8m². Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah
penularan penyakit dan melancarkan aktivitas.
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat
meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan
ada hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada
bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara, tingkat sosial, dan pendidikan
memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini.
2. Faktor individu anak
a. Umur
anak
Sejumlah studi yang besar
menunjukkan bahwa insiden penyakit pernapasan oleh veirus melonjak pada bayi
dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi
pada umur 6 –12 bulan.
b.
Berat badan lahir
Berat
badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa
balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai resiko kematian
yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada
bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang
sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan
sakit saluran pernapasan lainnya.
Penelitian
menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan dengan
meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan dan hubungan ini
menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan, pendapatan,
pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan
lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran
pernapasan, tetapi mengalami lebih berat infeksinya.
c.
Status gizi
Masukan
zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak
dipengaruhi oleh : umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan
fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari si anak itu
sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan
antopometri : berat badan lahir, panjang badan, tinggi badan, lingkar lengan
atas.
Keadaan
gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya
ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi
buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat
pneumonia. Disamping itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya
campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya daya tahan tubuh anak
terhadap infeksi.
Balita
dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan
gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi
sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan
kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang “ISPA
berat” bahkan serangannya lebih lama.
d.
Vitamin A
Sejak
tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan kapsul 200.000 IU vitamin A
pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat
vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya
adalah sebagai resiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok
kasus dan 93,5% pada kelompok kontrol.
Pemberian
vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan
peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai
yang cukup tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan
bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah diharapkan
adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang
tidak terlalu singkat. Karena itu usaha massal pemberian vitamin A dan
imunisasi secara berkala terhadap anak-anal prasekolah seharusnya tidak dilihat
sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu kesatuan
yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan erlindungan terhadap anak
Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam
keadaan yang sebaik-baiknya.
e.
Status Imunisasi
Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan
mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian
besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, maka
peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan
ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan
imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila
menderita ISPA dapat diharapkan perkenbangan penyakitnya tidak akan menjadi
lebih berat.
Cara
yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak
dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif sekitar 11% kematian
pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% lematian
pneumonia dapat dicegah.
3. Faktor perilaku
Faktor
perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita
dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan
oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil
dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu
dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau
beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh
terhadap anggota keluarga lainnya.
Peran
aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit
ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga.
Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini
banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian
besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini
ketika anaknya sakit.
Keluarga
perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari
pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak
balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan
dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita
sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat
keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang
ringan menjadi bertambah berat.
Dalam
penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi 3
(tiga) kategori yaitu: perawatan penunjang oleh ibu balita; tindakan yang
segera dan pengamatan tentang perkembangan penyakit balita; pencarian
pertolongan pada pelayanan kesehatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar