Osteoathritis (Pengapuran) atau Osteoporosis (Tulang keropos) ?
By : Elfira Dwi Yandari
Selasa, 10 April 2012
Osteoathritis (Pengapuran) atau Osteoporosis (Tulang keropos) ?Kedua istilah tersebut
maupun gejala penyakitnya seringkali dicampuradukkan. Keduanya memang
sama-sama mengacu pada penyakit tulang, sama-sama sering dijumpai pada
kaum wanita usia > 50 tahun (atau post menopause) serta
sama-sama merupakan penyakit menahun yang sulit untuk disembuhkan
seperti sediakala. Lalu kalau pinggang atau lutut Anda sering sakit
apakah itu gejala pengapuran atau tulang keropos, atau bisa jadi
dua-duanya ?
Osteoarthritis (OA) atau dikenal sebagai pengapuran
adalah suatu penyakit tulang yang menggambarkan kerusakan pada tulang
rawan sendi, jadi karena proses kerusakannya di sini terjadi pada rawan
sendi pastilah kelainan dan nyeri yang dijumpai umumnya terjadi pada
sendi-sendi tubuh. Sesuai namanya, di sini terjadi penumpukan zat kapur
atau kalsium pada lokasi tulang rawan yang merupakan engsel dari sendi
kita. Jadi istilahnya persendian kita aus ditandai dengan rawannya yang
rusak dan kemudian kerusakan itu secara alamiah ditutupi tubuh dengan
menimbun kalsium di situ. Sialnya kalsium yang tertimbun itu merupakan
zat yang keras, tidak seluwes si rawan sendi, dan juga bentuknya
terkadang tajam-tajam tak beraturan sehingga yang terjadi kemudian
adalah nyeri saat sendi digerakkan. Selain itu celah antar sendi
menyempit sehingga membatasi gerakan sendi dan menimbulkan kekakuan.
Lain
lagi ceritanya tentang osteoporosis atau dikenal sebagai tulang keropos
atau kopong. Pada osteoporosis massa yang membentuk tulang sudah
berkurang, sehingga tulang dapat dikatakan kopong. Struktur pengisi
tulang antara lain berupa senyawa-senyawa kolagen disamping juga
kalsium, berfungsi bagaikan semen cor-an nya tulang. Ketika massa ini
menjadi berkurang maka tulang menjadi kurang padat sehingga tak kuat
menahan benturan ringan sekalipun yang mengenainya, resikonya patah
tulang gampang terjadi. Sebagai perbandingan, apabila saya terpeleset
di kamar mandi dan pinggul saya menghantam lantai, mungkin yang terjadi
kemudian adalah daerah sekitar situ bengkak dan sakit, namun tulangnya
tak apa-apa karena massa tulang saya masih oke. Tapi jika yang
mengalami hal itu adalah penderita osteoporosis, maka tak anyal lagi
terjadi patah tulang setempat, dan hal itu dinamakan fraktur patologis.
Di luar dari mudahnya tulang yang keropos itu mengalami fraktur, tulang yang keropos hampir tak bergejala sama sekali, silent disease.
Jadi jika dengkul maupun punggung Anda seringkali kaku dan nyeri, yang
lebih rasional untuk dicurigai adalah si OA (pengapuran) bukannya si
osteoporosis. Keduanya memang dekat dengan wanita usia post menopause dikarenakan
proses metabolisme di tulang memang membutuhkan pengaruh dari hormone
estrogen yang lazimnya menurun saat wanita post menopause. Selain itu
OA (pengapuran) sendi dipicu pula dengan berbagai trauma menahun pada
sendi tersebut seperti misalnya over use saat olahraga
(misalnya banyak menimpa para pesenam) maupun jenis trauma minor
sekalipun seperti sering nyeletek-nyeletekin jari. Trauma menahun pada
sendi akan membuat rawannya mudah aus akibatnya akan terjadi penumpukan
kalsium disana (osteofit).
Osteoporosis selain bergantung pada
fungsi hormone estrogen juga ditengarai berkaitan dengan stok kalsium
yang kurang pada tubuh, misalnya jarang minum susu. Namun yang penting
untuk diketahui, puncak massa tulang kita sudah menurun saat kita mulai
masuk usia kepala tiga, artinya kita harus sudah memulai menimbun
kalsium sejak kita usia pertengahan untuk menjamin saat tua nanti
tulang kita masih cukup padat.
Jadi apabila sudah mengalami
osteoporosis dan baru memulai minum suplemen tinggi kalsium maupun susu
tinggi kalsium, hal tersebut tidak akan banyak faedahnya. Selain pada
susu, kalsium yang tinggi juga dapat dijumpai pada ikan-ikan kecil
seperti ikan teri. Kalsium dari alamiah memang lebih dianjurkan,
sementara suplemen kalsium dosis tinggi dapat menimbulkan beberapa
masalah seperti terbentuknya batu saluran kemih serta adanya isu
peningkatan risiko stroke dan serangan jantung yang menyertai para
wanita usia lanjut yang mengkonsumsi suplemen kalsium secara rutin
(sesuai laporan research di Auckland, New Zealand baru-baru ini).
Bagaimana mendeteksi OA maupun osteoporosis?
Mendeteksi
OA relatif lebih gampang karena penyakit ini akan menimbulkan kekakuan
dan nyeri pada sendi-sendi tertentu, terutama sendi-sendi jari, lutut
dan tulang punggung. Yang tersering dewasa ini adalah sendi lutut,
karena sesuai dengan proses terbentuknya OA pada sendi yaitu sendi
lutut lah yang paling sering mendapatkan trauma menahun, terutama pada
mereka yang gemuk. Dengan foto roentgen konvensional kita sudah dapat
mendiagnosa adanya OA serta derajadnya. Pada foto akan didapatkan
adanya penyempitan celah sendi dengan tepinya yang tak rata dan adanya
osteofit (bangunan runcing-runcing). Apabila OA sudah tergolong derajat
3 atau 4 (dua derajad akhir), umumnya sendi tak dapat diselamatkan lagi
dengan berbagai obat-obatan. Ortoped (dokter tulang) umumnya akan
menganjurkan lutut demikian di reparasi seluruhnya dan digantikan
dengan bahan metal buatan, suatu operasi yang dikenal sebagai Total
Knee Replacement.
Osteoporosis umumnya tak bergejala dan
penilaiannya tak cukup dari hasil roentgen konvensional. Perlu suatu
alat khusus yang dinamakan bone densitometri untuk dapat menilai
kepadatan massa tulang. Dengan demikian tulang Anda dapat dideteksi
sebagai tulang dengan massa yang masih baik, osteopenia (mulai menurun
kepadatan massanya) atau malah sudah osteoporosis (keropos). Berbeda
dengan OA yang ujung-ujungnya berupa tindakan bedah, pada osteoporosis
kita masih mengandalkan berbagai obat-obatan, kecuali jika sudah
terjadi fraktur patologis. Obat yang menjadi andalan baru untuk
mengatasi osteoporosis adalah bisfosfonat. Sebaiknya bagi Anda yang
terutama wanita dan berusia 50 tahun ke atas saya anjurkan sekali waktu
perlu menilai bone densitometri tulang Anda dan konsultasi kepada
ahlinya diperlukan sebelum fraktur patologis terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar